kepercayaan masyarakat banjar tentang yang gaib

PENDAHULUAN

Masyarakat Banjar adalah masyarakat yang percaya dengan hal-hal yang gaib, karena disatu sisi Alquran sendiri telah mewajibkan kepada manusia agar beriman dengan yang bersifat gaib seperti jin, malaikat dll. Berawal dari kewajiban beriman dengan hal yang gaib, masyarakat Banjar percaya bahwa makhluk-makhluk gaib itu bisa juga dianggap sahabat atau bahkan mereka anggap sebagai anak. Bahkan konon katanya, ada manusia yang kawin dengan jin. Bukankah ini sesuatu yang aneh, yang secara logika tidak mampu kita terima.Maka itu, lagi dan lagi sebagai manusia yang beriman dengan Alquran, kita harus percaya dengan hal-hal seperti itu.

Kebudayaan Banjar pada umumnya kaya akan cerita tentang makhluk gaib. Cerita kuyang, buaya kuning dll. Manusia apabila menjadi sebagai objek sahabat makhluk gaib maka dia akan merasakan keanehan yang luar biasa. Disatu sisi dia mungkin mendapatkan pertolongan dari makhluk gaib itu, namun disatu sisi lagi dia akan melayani makhluk gaib itu yang secara logika tidak diterima oleh akal. Seperti memberi makanan kepada makhluk gaib itu.

Hubungan antara manusia dan makhluk gaib ini memang mengundang beribu pertanyaan. Dari manusia yang dulunya miskin, namun secara tiba-tiba dia menjadi kaya mendadak. Proses perubahan sosial dari miskin kekaya ini tidak menutup kemungkinan dia bersahabat dengan makhluk gaib, karena dia kaya tanpa ada bekerja sama sekali. Contoh lain, orang yang kuat atau dalam bahasa banjar disebut  jagau, dia pasti bersahabat juga dengan jin, karena dia tahan ditimpas dan disodok.

Berangkat dari permasalahan diatas, maka kami dengan semangat akan memaparkan secara singkat tentang hubungan manusia dengan makhluk gaib dalam masyarakat Banjar, bagaimana makhluk gaib itu berinteraksi dengan manusia, serta apakah ada dampak negatif yang ditumbulkan akibat dari berkawan dengan makhluk gaib ini. Secara umum pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab dimakalah kami ini.

PEMBAHASAN

  1. A.     Pengertian Makhluk Gaib

Dalam bahasa Indonesia, kata gaib diartikan sebagai ‘sesuatu yang tersembunyi, tidak kelihatan, atau tidak diketahui sebab-sebabnya’. Dalam kamus bahasa Arab, kata gaib adalah antonim dari kata syahadat.Kata syahadat dalam kamus al Munjid berarti ‘hadir atau kesaksian’, baik dengan mata kepala maupun dengan mata hati. Dengan pengertian ini, maka segala sesuatu yang tidak hadir adalah gaib.

Demikian pula sesuatu yang tidak disaksikan adalah gaib, bahkan sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indra juga merupakan gaib, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan indra-indra tersebut maupun oleh sebab lainnya. Banyak hal yang gaib bagi manusia, serta beragam pula tingkat kegaibannya. Agama melalui wahyu ilahi mengungkap sekelumit yang gaib yang harus dipercaya itu, yang di dalamnya termasuk tentang kedudukan ‘jin’. Kepercayaan terhadap makhluk gaib atau jin di Banjarmasin sudah ada sebelum Islam datang. Hal ini dapat dilihat pada upacara-upacara tradisional terhadap hal-hal tertentu. Munculnya kepercayaan tentang makhluk gaib khususnya jin dengan mudah mendapat tempat, kemudian pandangan dan pengertian terhadap bangsa jin itu terdapat berbagai corak pemahaman sehingga muncul berbagai sebutan/nama seperti; tuyul, hantu, kuyang, hantu beranak, kuntilanak, dan sejumlah nama-nama lain sesuai kepercayaan masyarakat Banjar.[1]

  1. B.     Pandangan Islam tentang Makhluk Gaib

Dalam literatur Islam juga ditemukan bahwa kepercayaan masyarakat Banjar tentang makhluk yang bernama jin, dan mereka meyakini bahwa jin sebagai makhluk yang memiliki kekuatan tersembunyi. Menurut kepercayaan masyarakat Banjar jin adalah makhluk yang mampu mengakibatkan gangguan terhadap kehidupan manusia, disamping dapat juga memberi manfaat. Kepercayaan tentang kemampuan jin membuat gangguan mengantarkan masyarakat itu menyembelih binatang sebagai sesaji kepada jin ketika mereka menghuni sebuah rumah baru, atau ketika masyarakat membangun jembatan baru, dan lain-lain sebagainya.

Dalam sebuah Allah sudah menegaskan tentang kewajiban kita beriman dengan hal-hal yang gaib, seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-baqarah ayat 3.

Artinya : “(yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezkiyang Kami anugerahkan kepada mereka.

Dalam Islam kedudukan jin sebagai makhluk sama dengan manusia, yaitu sebagai hamba yang mengabdikan dirinya hanya kepada Allah. Q.s. Adz-dzariyat: 56

Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dalam mengabdikan dirinya kepada Allah, bangsa jin juga ada yang ingkar, ada juga yang taat patuh pada perintah Allah sebagaima diungkapkan dalam al Quran surah al Jin ayat 11, “Dan sesungguhnya diantara kami ada jin-jin yang saleh dan diantara kami ada pula yang tidak. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda”.
Dari segi kejadian jin berbeda dengan manusia. Jin diciptakan dari unsur api yang sangat panas.Q.s. al Hijr:27.

Artinya:  dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.
Jin juga memiliki masyarakat sebagaimana masyarakat manusia. Q.s ar Rahman:33.

Artinya: Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Kata ‘yama’syara’/jama’ah yang ditujukan kepada jin dan manusia menunjukkan bahwa antara masing-masing jenis terdapat ikatan yang menyatukan anggota-anggotanya. Demikian juga dengan jenis kelamin, bahwa makhluk jin terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan. Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW apabila masuk ke jamban/toilet membaca do’a yang artinya Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari gangguan setan khubuts/laki-laki dan setan khubaits/perempuan. Makhluk yang bernama jin itu juga mempunyai keturunan dan memiliki kelebihan bahwa mereka tidak bisa dilihat oleh manusia. Disamping itu, jin memiliki kemampuan merubah dirinya dalam berbagai bentuk.[2]

  1. C.     Makhluk Gaib dan interaksi dengan manusia

Dalam kepercayaan masyarakat orang Banjar, manusia ini adalah makhluk sosial, yang tidak akan mampu menjalankan kehidupan ini dengan sendiri. Perlu bantuan dengan sesama manusia. Selain memerlukan bantuan orang lain, masyarakat Banjar juga mempercayai bahwa makhluk gaib itu juga bisa melakukan interkasi dengan manusia, atau dengan kata lain mereka juga bersosialisasi dengan manusia.

Manusia dalam hidupnya selalu berusaha menyelamatkan diri atau membebaskan diri dari segala ancaman. Untuk itulah manusia baik secara perorangan maupun secara berkelompok berusaha mencari perlindungan diri dengan cara melakukan hubungan dengan alam supranatural. Beberapa sisi kehidupan manusia berada dalam posisi saling ketergantungan. Misalnya dalam masalah mata pencaharian, dan dalam menghadapi gejala alam serta kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya. Oleh karena itu sesuai dengan pemahaman budaya masyarakat setempat diadakan suatu upacara yang berhubungan dengan peristiwa alam dan kepercayaan.Dengan upacara alam itu diharapkan kehidupan sehari-sehari tidak terancam dan tidak saling bentrok.[3]

  1. D.    Jenis-jenis Makhluk Gaib yang Dapat berhubungan dengan Manusia

Masyarakat Banjar mempunyai kepercayaan kepada makhluk gaib, diantara jenis-jenis majhluk gaib itu adalah kuyang-kuyang, hantu-hantu, ilmu kekebalan, roh-roh para pangeran, para dewa Batala kala atau Sangkala, para leluhur mereka seperti Datu Taruna ( leluhur di desa Barikin), Datu Thabib ( leluhur di Amuntai), Datu Ujung dan makhluk lainnya.

Selain masyarakat Banjar mempercayai adanya makhluk gaib seperti makhluk jin, dan hantu-hantu, juga mempercayai adanya orang-orang gaib dari tokoh-tokoh terkemuka dari zaman dahulu yang berpindah tempat atau menjadi gaib seperti wali-wali, raja-raja Banjar, atau datu-datu yang kehadirannya dapat dirasakan melalui gangguan kepada manusia atau dengan jalan merasuki raga orang-orang tertentu.[4]

Kesemua jenis makhluk gaib itu mampu berhubungan dengan manusia, baik itu menjadi teman biasa saja, atau bahkan menjadi pembantu/ sesuruhan kita Seperti hantu penjaga rumah.Namun seandainnya manusia bersahabat dengan makhluk gaib, kalau dihitung secara logika.Lebih banyak dampak negatif daripada dampak positifnya.Lebih-lebih lagi kalau Jin nya itu adalah jin yang jahat.

  1. a.      Makhluk gaib yang berawal dari manusia

Mahluk halus yang berasal dari manusia yang sudah meninggal dunia, dan yang dipercayai tidak mati melainkan gaib atau menurut istilah penduduk wapat, atau dinamakan  “orang gaib”.

Tidak ada nama yang jelas bagi makhluk asal manusia yang sudah mati ini, tetapi dengan memperhatikan mamangan (sementara: mantra) yang diucapkan untuk menghilangkan gangguannya, namanya mungkin pidara, nama ini masih digunakan dikalangan masyarakat Bukit. Diantaranya yang penting adalah tentu saja pidara asal kerabat dekat, khusunya yang sebelum matinya  tinggal dalam satu rumah, dengan kata lain akrab dengan si sakit, dan juga tokoh keturunan dalam garis lurus keatas. Pidara-pidara dipercaya berkeliaran ditempat-tempat tertentu, dan khususnya untuk orang yang meninggal secara tidak wajar konon berkeliaran disekitar tempat kejadian, dan yang terakhir ini sering pula dicurigai sebagai mengganggu.Berkenaan dengan kerabat dekat, mungkin hubungnnya yang dekat sewaktu hidupnya dianggap menyebabkan terjadinya kenang-mengenang yang berakibat seorang menjadi sakit.

Sakit disebabkan oleh gangguan pidara dinamakan kepidaraan, yang konon sering menimpa anak-anak, khususnya yang berumur dibawah lima tahun, tetapi adakalanya menimpa orang dewasa. Wanita yang tengah melahirkan atau tengah nifas konon sangat mudah terserang. Gejalanya adalah badan si penderita panas  dingin, kaki dan tangan terasa dingin, dan yang dirasakan oleh si penderita ialah sakit kepala yang berkepanjangan. Mungkin yang mendapat kepidaraan yang lebih banyak terjadi disekitar kuburan dan ditempat keramaian aruh,   oleh karena itu biasanya anak-anak yang masih kecil dilarang berada ditempat tersebut bila tidak ditemani orang dewasa, dan khususnya bayi, biasanya tabu diajak serta ketempat keramian aruh.

Gangguan arwah yang baru meninggal dapat menimbulkan kepidaraan yang agak gawat, yang khususnya konon menimpa anak-anak, kadang-kadang juga orang dewasa, kerabat dekatnya, terutama yang masih serumah atau berdekatan tempat tinggalnya, biasanya yang agak akrab dengannya semasa hidup. Gejalanya, disamping gejala yang biasa, antara lain si sakit sering termenung, selalu gelisah, tidak pernah tenang pada saat tidur, duduk atau pun berdiri. Gejala ini dalam pagar disebut “dandam pidara”, kira-kira terkenang atau dikenang pidara, yaitu ruh kerabat yang meninggal tadi (dandam sering berarti rindu).[5]

  1. b.      Nenek Moyang

Dalam masyarakat Banjar dikemukakan bahwa dikalangan kerabat tertentu arwah nenek moyang, diantaranya yang dianggap masih hidup selaku orang gaib di dalam dunia lain, kadang-kadang seperti diwakili oleh sahabatnya, memperingatkan anak cucunya akan kewajiban kerabat melaksanakan adat bubuhan. Peringatan demikian mungkin berupa teguran ringan saja, tetapi dapat juga terwujud dengan sakit yang ringan maupun berat.Gejala sakit atau gejala yang tidak menyenangkan pertanda peringatan dari dunia gaib ini biasanya dikatakan dengan kepingitan.

Gejala kepingitan karena tuntutan melaksanakan adat turun temurun ini tampaknya diyakini sebagai spesifik, kadang-kadang seperti erat dikaitkan dengan adat yang dilalaikan (aruh tahun dan sejenisnya, upacara mengayun, adat ziarah, dan memakai pakaian atau perhiasan kuno, melanggar tabu bubuhan), setidaknya beberapa diantaranya. Gejala yang ditimbulkan dari meninggalkan tradisi ini diyakini adalah  sakitnya salah satu dari anggota keluarga yang tidak sembuh-sembuh atau selalu berulang, atau bahkan seperti gila. Bayi atau anak, yang lalai diupacara ayunkan dengan betarbang konon akan sakit perut dan perutnya seperti berbingkai dan berbunyi berdengung bila dipukul, seperti halnya rebana. Bayi dikalangan warga akar bergantung, yang terlambat dibawa ziarah ke kubur keramat kelampayan konon akan memperlihatkan gejara kepidaraan.

Berikut ini gejala tuntunan pemakai pakaian, sesuai dengan corak batiknya, dan perhiasan kuno.Corak motif naga balimbur (berwujud gambar naga, sejenis ular dalam dongeng, sedang memainan kemalanya), gejala ketagihan adalah berwujud anak dalam kandungan menjadi hilang, sedang ular lidi (juga sejenis ular dalam dongeng), gejala ketagihannya adalah sakit-sakit pada tulang dan persendian. Corak motif tarati dalam taman (artinya:teratai dalam taman) gejala ketagihan berwujud perut bengkak, bintang berhambur (artinya; bintang bertaburan) gejala ketagihannya ialah berupa sakit kepala sebelah atau koreng yang tidak sembuh-sembuh. Gejala memerlukan samban atau kawari (keduanya sejenis perhiasaan yang dikalungkan dileher) ialah si anak sering kencing (pengamihan), dan ketagihan terhadap picis wujudnya ialah si anak mengeluarkan ludah terus-menerus (baliuran). Gejala peringatan atas dilanggarnya tabu bubuhan (dilapangan antara lain tabu memakai pakaian berwarna dan tabu menggunakan kayu tertentu sebagai kayu bakar) tidak diterangka, selain dikatakan sebagai dipingit.

Tokoh-tokoh tertentu di Dalam Pagar dan Anduhum dapat menghubungkan berbagai gejala pennyakit tertentu dengan corak motif batik tertentu (untuk selendang, sarung ikat kepala, baju, celana, ayunan) atau jenis perhiasan (khususnya untuk bayidan anak-anak) tertentu.[6]

  1. c.       Orang Gaib  

Berbagai tokoh dalam sejarah raja-raja Banjar pada zaman hindu dikatakan tidak mati, melainkan wafat, atau sepertiungkapan dalam hikayat ”kembali pada asalku” atau “gaib”. Dan mereka ini kononhidup di alam gaib sampai sekarang. Keraton tokoh-tokoh gaib asal raja-raja ini konon berada dipuncak gunung tertentu, antara lain gunung candi[7], gunung  pamaton[8], dan gunung batu gambar[9], tetapi  juga terdapat muara cerucuk[10].

Daerah rawa-rawa dan tempat-tempat tertentu lainnya, termasuk yang terletak disekitar perkampungan penduduk, kadang-kadang juga diyakini sebagai wilayah perkampungan orang gaib, hal ini mungkin karena adanya anggapan roh-roh dari orang-orang yang sewaktu hidupnya tinggal dalam suatu daerah tertentu masih berkeliaran disekitar tempat tinggalnya, dan setelah berlalunya waktu berkembang menjadi kepercayaan tentang perkampungan orang gaib ditempat-tempat tersebut.Khusus bagi orang yang meninggal secara tidak wajar seperti terbunuh, kecelakaan, mati lamas. Diyakini mereka menempati daerah-daerah tempat kejadian perkara tersebut.Demikianlah daerah rawa-rawa dan tanah persawahan disekitar dalam pagar[11] sampai jauh ke hilir sungai martapura konon tempat pemukiman orang gaib,yang berasal dari biaju(Dayak Ngaju).

Selain itu, disekitar perkampungan penduduk  juga ditemukan daerah  atau tempat-tempat yang dianggap penduduk sebagai tempat pemukiman orang gaib. Tempat tersebut disekitar dalam pagar ialah sebuah pematang ditengah-tengah  wilayah persawahan disebelah timur laut kemasan, didekat sebuah sungaiyang melebar (dinamakan penduduk danau panjang).  Konon didaearah tersebut sering terdengar suara musik wayang,  pertanda ditempat dunia gaib tersebut  sedang ada keramaian. Pohon kariwaya, sejenis pohon beringin diyakini masyarakat Banjar dengan gedung megah orang-orang gaib itu.[12]

Roh-roh gaib ini dianggap mempunyai kekuatan tersendiri di dalam kehidupannya. Mereka ada yang jahat dan ada pula yang baik. Roh jahat biasa mengganggu ketenteraman masyarakat, terutama masyarakat yang berlaku ceroboh terhadap alam lingkungan yang dihuni oleh orang gaib tersebut. Gangguan itu dapat dirasakan ketika salah seorang warga kerasukan dan mengeluarkan kata-kata yang diyakini dari makhluk halus atau roh nenek moyang. Atau apabila ada dalam masyarakat yang sakit payah dan di luar kebiasaan pengetahuan mereka, maka sakit yang demikian di anggap sebagai penyakit yang berasal dari roh-roh yang jahat.[13]

Berbagai istilah untuk menyebutkan  ganguan orang gaib terhadap manusia ialah kepuhunan, keteguran, dan kepingitan. Erat berkaitan dengan ini ialah istilah kesurupan dan kesarungan.

Dalam pengertian sehari-hari, kapuhunan berarti kena bahaya, hal ini khususnya dikatakan terjadi pada seorang yang bepergian ( keluar rumah, kesawah, kehutan dsb) pada saat makanan dan penganan sudah atau sedang di siapkan yang sudah diketahuinya karena mencium baunya, melihat orang mempersiapkan dan sebagainya sebelum mencicipi sebelum beangkat. Hal ini juga yang menyebabkan adanya keharusan memberi tetangga pangan, masakan atau buah-buahan yang tidak biasa yang terahir mungkin dari hasil panen atau dibeli tetapi dalam beberapa contoh kasus kepuhunan  yang dilaporkan tampak adanya kekurang waspadaan  dipihak sisakit, sehingga secara tidak sengaja konon menyebabkan makhluk-makhlukhalus tertentu merasa terganggu dan menyebabkan orang gaib itu melakukan suatu tindakan yang membahayakan sisakit. Dan mungkin salah satu hal yang menyebabkan berkurangnya kewaspadaan itu ialah karena  terganggu oleh kenangan akan makanan yang tidak sempat di cicipinya.

Contoh-contoh bahaya yang mungkin menimpa itu ialah seperti seorang tukang yang terpeleset ketika memasang atap (istrinya sedang memasak ketika ia pergi), seorang nelayan terjatuh dari perahunya, karena ia tidak singgah ketika di ajak ikut menikmati makanan tertentu karena tergesa-gesa, seorang warga tertimpa pokok inau yang rebah secara tidak disangka-sangka, dan seorang warga sakit seperti hilang akal tatkala kembali dari mengerjakan sawahnya.

Kateguran secara harpiah berarti tertegur atau ditegur (oleh makhluk halus ), (dari kata tagur atau tegur). Gejala yang khas  konon biasanya ialah berbicara yang tidak karuan sekembalinya dari tempat yang angker disamping gejala lain yang mirip kapidaraan atau kapuhunan. Kataguran yang serius ialah gejala kesurupan, dan si sakit biasanya dikatakan sebagai dipingit oleh makhluk halus.[14]

  1. d.      Makhluk Halus Akrab dengan Manusia

Orang Banjar percaya bahwa kuburan syekh arsyad, dan demikian pula para ulama keturunanya, selalu dijaga kesucianyaoleh orang muwakkal atau yang disebut Datu Baduk.Kebanyakan orang percaya bahwa Datu Baduk adalah berasal dari jin, yang mengabdi kepada syekh selaku budaknya, atau sahabatnya. Tidak dijelaskan apa tugasnya ketika syekh masih hidup.Bahwa muwakkal adalah berasal dari malaikat pemelihara Alquran yang dijadikan manusia sbagai sahabat.Selain syeh arsyad,tokoh lain yang memiliki muwakkal semasa hidupnya adalah Syeh Abdul Hamid yang konon kuburannya di Abulung, yang konon hidup semasa dengan syeh arsyad, Sultan Adam, dan juga Tuan Guru Zainal Ilmi, yang terahir ini ialah seorang ulama terkemuka di Dalam Pagar. Dan berbagai ulama-ulama terkemuka di Martapura didesas-desuskan memiliki muwakkal pula. Ulama-ulama ini antara lain melakukan peraktek perdukunan seperti  meramal , mengobati dengan air, mengembalikan barang yang hilang secara magis, dan memandikan gadis yang terlambat bersuami, dan justru lebih populer dalam praktek ini daripada ulama.

Para muwakkal konon menjaga kesucian makam almarhum sahabatnya dari perbuatan-perbuatan tidak senonoh oleh para peziarah, sampai sekarang ini tabu memotret dengan lampu kilat dikuburan-kuburan keramat, dengan kemungkinan konon mendapat gangguan daripara muwakkal yang marah bila  dilangar. Gangguan itu mungkin hanya sekedar menjeweratau memukul yang tidakjelas siapa pelakunya.muwakkalnenek moyang konon dapat memingit salah satu anggota dari keturunan tuanya, jika keluarganya itu lalai makakukan kawajibab-kewajiban kerabatnya yang telah turun-temurun. Jadi dalam hal ini muwakkalmewakili  nenek moyang memperingatkan akan kewajiban kewajiban adat tertentu.  Sahabat tersebut konon mamingit keturunan tuanya karena menuntut agar diberikan makanan seperti  yang dahulu pernah diberikan oleh moyang kerabat itu.

Kasurupan sebenarnya sama artinya dengan kesurupan dalam bahasa Indonesia yang artinya ialah sebuah makhluk halus telah memasuki tubuh seseorang.  Kasarungan adalah kata lain dari kesurupan,tetapi hal ini terjadi karena keinginan nenek moyang atau muwakkal untuk berhubungan langsung dengan anak cucunya dan biasanya tidak dianggap kesurupan seperti halnya kesurupan. Sahabat nenek moyang yang bukanmuwakkal  merasuki keturunan tuannya biasanya dikategorikan sebagai kesurupan yang serius.[15]

  1. e.       Makhluk Halus Lainnya

Makhluk halus yang konon menampakkan diri pada manusia secara umumnya biasanya dinamakan hantu.  Dengan demikian kadang-kadang istilah ini dinamakan juga orang gaib, seperti dalam ungkapan “disembunyikan hantu”  yang hampir berarti selalu diculik orang gaib. Orang-orang memang takutpada hantu  yang berasal dari arwah manusia yang telah melakukan kesalahan, tetapi tak seorangpun yang dapat menceritakan jenis gangguannya mengapa harus ditakuti. Orang-orang tertentu konon setelah matinya menjadihantu karena ketika hidupnya ia mengkaji ilmu, seperti ilmu kaya, ilmu kebal, atau perkasa dll.  Di dalam masyarakat berkembang anggapan bahwa  yang menjadi hantu ialah orang-orang yang matinya jika orang minum minyak sakti,  agar menjadi kaya, kebal atau perkasa,  dan luka separah apapun dapat sembuh dengan cepat. Wanita kuyang, karena konon meminum minyak kuyang, akan menjadi kuyang pada waktu malam, ditakuti akan menghisap habis darah wanita yang baru melahirkan atau bayinya. Hantu beranak adalah jenis hantu , yang mungkin memang hantu sejak semula juga di takutkan akan mengganggu wanita hamil dan bayinya, seperti halnya kuyang.[16]

Kuyang adalah manusia hantu yang suka mengisap darah bekas seorang ibu melahirkan atau pula darah bayi yang baru dilahirkannya. Kuyang biasanya terbang dengan kepala dan isi perutnya pada malam hari untuk mencari mangsanya dan untuk mengelabui mangsanya, sewaktu-waktu ia bisa berubah menjadi seekor burung malam atau kucing. Kuyang juga memiliki dua gigi taring di kiri dan kanan mulutnya.

Kuyang adalah hantu perempuan yang pada dasarnya adalah manusia biasa, akan tetapi karena sebab atau ilmu tertentu ia kemudian berubah wujud menjadi hantu dan pada waktu-waktu tertentu terbang untuk mencari makan, yakni darah atau orok (bayi) yang baru dilahirkan. Orang Banjar percaya (sebagaimana juga orang Thailand dan Sumatera), bahwa dengan minyak tertentu ―biasa disebut dengan istilah minyak kuyang― yang digosokkan pada bagian sekeliling leher, seorang perempuan bisa berubah menjadi kuyang. Konon tujuannya menjadi kuyang adalah untuk awet muda dan keabadian hidup (panjang umur), karena meminum darah segar bayi.

Kuyang berbeda dengan makhluk sejenis, vampir (China) atau drakula (Barat) misalnya, yang juga mengisap darah manusia umumnya. Sebab, kuyang adalah seorang perempuan dan hanya mengisap darah bekas perempuan yang baru melahirkan atau darah bayi yang ada dalam kandungan (sehingga seperti keguguran) atau yang baru dilahirkan. Dan, untuk menandai mangsanya, kuyang biasanya mendatangi seorang perempuan yang sedang hamil besar dan mengusap perutnya.Sedangkan vampir dan drakula bisa laki-laki atau perempuan dan berasal dari manusia yang sudah mati, namun karena sebab tertentu mereka hidup atau dihidupkan kembali, sehingga untuk menopang kembalinya kehidupan tersebut, mereka harus makan atau meminum darah.Adapun kuyang berasal dari manusia hidup yang kemudian berubah menjadi makhluk penghisap darah.

Orang Banjar sendiri mencirikan kuyang sebagai seorang perempuan berambut panjang yang jika berjalan siang hari selalu menutupi bekas guratan dilehernya atau menutupi bagian kepalanya dengan kain, supaya tidak kepanasan terkena sengatan matahari.

Orang Banjar meyakini bahwa kuyang adalah makhluk jadian yang takut dengan bawang merah, terlebih-lebih dengan bawang merah tunggal.Sedangkan jika vampir atau drakula takut dengan bawang putih.Kuyang takut dengan cermin, sisir, pisau, rumput jariangau, dan Yasin. Itulah sebabnya, menjadi tradisi dalam masyarakat Banjar untuk meletakkan benda-benda tersebut didekat seorang perempuan yang baru melahirkan dan atau bayi yang baru dilahirkannya, agar terhindar dari gangguan kuyang. Bahkan, ketika bayi yang mereka lahirkan tersebut memasuki masa diayun atau dipukung, biasanya ditali ayunan juga diikatkan Yaasin.

Tali ijuk umum digunakan oleh orang Banjar sebagai tali ayunan yang dipakai sebagai tali ayunan, kain kuning, atau pun bayi yang dipukung (dibedong, sehingga menutup bagian leher dan hanya kelihatan bagian wajah dan kepala) dimaksudkan untuk mencegah dan menghindari gangguan kuyang atau makhluk-makhluk halus. Konon kuyang dan makhluk-makhluk halus pengganggu juga takut dengan tali ijuk. Karenanya, tali ijuk terkadang juga dijadikan sebagai dinding atau penghalat rumah.[17] Yakni dengan mengikatkan tali ijuk diatas flapon[18].

tambun di kenal masyarakt adalah mahluk yang ada di dalam air yang sering menyebabkan orang mati tenggelam di air. Sebagian masyarakt menyebutnya hantu tambun. Tak bisa dipastikan makhluk ini apa kah binatang air asli atau mahkluk suprantural.

Hantu marabiabanmahluk supranatural yang satu ini memang sangat terkenal di kalimantan. mahkluk ini di gambarkan besar seperti raksasa, dan mempunyai bulu lebat. Mahkluk ini dikatakan ada di belantara hutan-hutan kalimantan dan juga mampumenjelma menjadi  manusia yg mencapai tingkat tinggi ilmu kesaktian hantu marabiaban ini. Bahkan hingga saat ini masyarakat Kalimantan ada yang memakai bulu makhluk ini untuk ilmu kekebalan, dan orang yang memakainya apabila marah akan mengeluarkan taring di giginya.

buaya kuningdalam tradisi masyarakat Banjar, buaya kuning adalah makhluk yang di anggap sakral dan makhluk keramat bahkan pada Zaman dulu masyarakat Banjar banyak yg memelihara “ma ingu” buaya kuning ini hingga sampai saat ini
apalagi di daerah Kalua. Masyarakat daerah sanalah yang banyak dipercaya memelihara hewan ini.Karena mereka mayoritas hidup dan berdagang jadi saudagar melalui sungai-sungai di Kalimantan Selatan.Buaya kuning ini bukan buaya yang bersifat boilogis, melainkaan buaya mistis/ supranatural dan gaib.Buaya ini kasat mata namun terkadang menampakan diri. Dan di beri makan setahun sekali dan diadakan ritual oleh sang majikan.[19]

PENUTUP

Kebudayaan Banjar berkembang paralel dengan sejarah asal-asul orang Banjar di Kalimantan Selatan. Masyarakat Banjar dikenal sebagai penganut agama Islam. Namun dalam ritual-ritual tertentu kadang bernuansa sinkrites dengan unsur kebudayaan lama yang mereka warisi dari nenek moyang mereka.

Di antara warisan kebudayaan itu adalah kepercayaan terhadap makhluk gaib. Seperti yang sudah dijelaskan dalam makalah tadi bahwa makhluk gaib itu seperti manusia juga. Ada yang jahat ada nada juga yang baik.

Makhluk gaib itupun juga bisa menggangu manusia seperti kesurupan, kepidaraan, dipingit dan masih banyak lagi istilah gangguan makhluk halus terhadap manusia.

Sebagai masyrakat Banjar, disatu sisi kita harus melestarikan kebudayaaan itu, karena bagaimana pun itu adalah bagian dari Kalimantan Selatan juga. Namun yang perlu ditekankan lagi adalah bahwa sebagai seorang muslim jangan sampai terjerumus dalam jurang kemusyrikan. Disinilah beberapa orang-orang Banjar lebih percaya kekuatan makhluk gaib itu.Seperti dia mau kaya sehingga mengkaji ilmu-ilmu hitam.

Kita hanya cukup mempercayai bahwa makhluk gaib itu ada. Dan bersahabat dengan dia pun juga tidak ada yang melarang. Namun perlu kita ketahui lagi, bersahabat dengan jin atau makhluk gaib itu lebih banyak mengandung dampak negative daripada dampak positifnya.

DAFTAR PUSTAKA

Daud, Alfani. Islam dan Masyarakat Banjar: Diskripsi dan Analisa Kebudayaan  Banjar. Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 1997.

Ideham, M. Suriansyah, dkk. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan, 2005.

Wajidi.Akluturasi Budaya Banjar di Banua Halat.Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2011.

——, “Kuyang,” http://banjarcyber.tripod.com, (diakses pada tanggal 21 April 2012)

Pulungan, Fachrurrozy. “Keimanan dan Makhluk Gaib,” http://www.waspada.co.id, ( diakses pada tanggal 20 April 2012).

Rendra, “Makhluk Mitologi Kalimantan yang terkenal di Masyarakat Kalimantan  Hingga Sekarang,” http://ibanezhack.wordpress.com, ( diakses pada tanggal 20 April 2012).


[1]Fachrurrozy Pulungan, “Keimanan dan Makhluk Gaib,” http://www.waspada.co.id, ( diakses pada tanggal 20 April 2012).

[2]Fachrurrozy Pulungan, “Keimanan dan Makhluk Gaib,” http://www.waspada.co.id, ( diakses pada tanggal 20 April 2012).

[3]M. Suriansyah Ideham, dkk,  Urang Banjar dan Kebudayaannya (Banjarmasin: Badan penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, 67.

[4] Wajidi, Akulturasi Budaya Banjar di Banua Halat, ( Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2011), 20.

[5] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar ( Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 1997), 404.

[6] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, 405.

[7]Gunung candi adalah gundukan tanah tempat sisa-sisa candi Agung dekat Amuntai.

[8] Gunung Pamaton terletak tidak jauh dari Martapura

[9] Gunung Batu Gambat terletak dekat kota Waringin di Kabupaten HSU.

[10]Cerucuk adalah balok-balok kayu yang dipacangkan kedalam tanah, dahulu dimaksudkan agar perahu-perahu musuh dari sungai Barito tidak dapat merapat dan dengan demikian mengahalangi musuh untuk menyerang keraton yang baru dibangun.

[11]Desa yang terdapat dikota Martapura.

[12]Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, 406-407.

[13] Wajidi, Akulturasi Budaya Banjar di Benua Halat, 21.

[14]Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, 407-408.

[15]Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, 408-409.

[16]Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, 409.

[17] ——, “Kuyang,” http://banjarcyber.tripod.com, (diakses pada tanggal 21 April 2012)

[18]Bagian atas dari rumah.

[19] Rendra, “Makhluk Mitologi Kalimantan yang terkenal di Masyarakat Kalimantan  HinggaSekarang,” http://ibanezhack.wordpress.com, ( diakses pada tanggal 20 April 2012).

Posted in Uncategorized

Suara Hati Nurani

Gambar

Pendahuluan

Di dalam jiwa manusia dirasakan ada suatu kekuatan yang berfungsi untuk memperingatkan, mencegah dari perbuatan yang buruk. Atau sebaliknya, kekuatan itu mendorong terhadap perbuatan yang baik. Ada perasaan yang tidak senang apabila sedang mengerjakan sesuatu karena tidak tunduk pada kekuatan. Apabila telah menyelesaikan perbuatan tercela, mulailah kekuatan itu memarahinya dan merasa menyesal atas perbuatan itu.

Kondisi perasaan yang lain bahwa kekuatan tersebut memerintah agar melakukan kewajiban. Kemudian mendorong untuk melangsungkan perbuatannya. Dan setelah selesai, dia merasakan lapang dada dan gembira.

Gambaran keadaan jiwa di atas menunjukkan bahwa manusia di dalamnya ada hati nurani. Ia merupakan kekuatan yang mendahului, mengiringi, dan menyusul pada kekuatan.[1]

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah, agar pembaca, dan penyaji khususnya dapat memahami berbagai permasalahan yang menyangkut suara hati nurani.

Berbagai macam komentar, tambahan, sanggahan, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penyusun demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

  1. A.  Pengertian  Suara, Hati, dan Nurani
    1. 1.   Pengertian Suara

Suara, dalam bahasa arab adalah  الصّوت .

Sedangkan di dalam kitab al- Ta’rîfât, karangan al Fadhil al ‘Allamah Ali bin Muhammad al Syarif al Turjani, الصّوت artinya

كَيْفِيَّةٌ قَا ئِمَةٌ بِالْهَوَاءِ يَحْمِلُهَا اِلَي الصَّمَاخِ[2]

Dan di dalam Kamus Bahasa Indonesia, suara adalah bunyi yang keluar dari mulut manusia.[3]

  1. 2.  Pengertian Hati

Hati, sebagaimana yang telah diketahui, ia adalah salah satu organ tubuh yang ada di dalam rongga perut manusia di sebelah kiri. Hati merupakan organ tubuh yang ukurannya paling besar, dan paling berat di antara organ tubuh lainnya.

Di dalam Kamus Arab-Indonesia  yang disusun oleh Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, istilah  قَلْبٌ artinya “hati, jantung, akal”.

Dan dari Kamus Lengkap Bahasa Indonesia yang disusun oleh Ananda Santoso dan A. R. AK Hanif, hati artinya “bagian isi rongga dada yang menyimpan sari makanan, sebagai pangkal perasan bathin”.

Dalam buku “Ensiklopedi Tasawuf Imam Ghazali”, penjelasan mengenai hati(قلب ( menurut para ahli tasawuf dan lain-lain sebagai berikut :

 

 

      Sayyid Ali r.a

“Tidaklah hati itu disebut qalb ( yang suka berbolak-balik ), melainkan karena ia berbolak-balik  ( tidak dapat tenang )”

      Abu Bakar Jahdar Asy-Syibli r.a

              “Di dalam Ka’bah terdapat tanda sejarah Nabi Ibrahim a.s, dan di dalam hati terdapat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Ka’bah mempunyai beberapa fondasi dan hati juga mempunyai beberapa fondasi. Fondasi Ka’bah terdiri dari batu-batu besar, sedangkan fondasi hati terdiri dari tempat-tempat penyimpangan cahaya makrifat kepada Allah Swt.”

      Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Mustais An-Naisaburi r.a

              “Kecenderungan hati kepada selain Allah Swt. merupakan hukuman yang disegerakan oleh Allah Swt.bagi seorang hamba di dunia.”

Sang Maestro dunia tasawuf, Imam al-Ghazali menerangkan definisi hati di dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulumuddin sebagai berikut:

–       اللَّحْمُ الصَّنُوْبَرِى الشَّكْلُ الْمَوْدُعُ فِي الْجَانِبِ الأيْسَرِ. وَ هُوَ لَحْمٌ مَخْصُوْصٌ وَفِي بَاطِنِهِ تَجْويْفٌ. وَفِي ذَالِكَ التَّجْوِيْفِ دَمٌ اَسْوَدُ[4]  

–       أنَّ الْقَلْبَ لَطِيْفَةٌ رَبَّانِيَّةٌ رُوْحَانِيَّةٌ لَهَا بِهَذَا الْقَلْبِ الْجِسْمَانِي تَعَلُّقٌ. وَ تِلْكَ اللَّطِيْفَةُ هِيَ حَقِيْقَةُ الأِنْسَانِ. وَ هُوَ الْمُدْرِكُ الْعَالِمُ الْعَارِفُ مِنَ الأِنْسَانِ, وَ هُوَ الْمُخَاطَبُ وَالْمُعَاقَبُ وَالْمُعَاتَبُ وَالْمَطَالِبِ.[5]

  1. 3.  Pengertian Nurani

Nurani, berasal dari bahasa arab نور , yang ditambah akhiran huruf nun dan ya’ nisbah (( نوراني. Nur dalam kamus bahasa arab, artinya “cahaya, terang”. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia, nurani artinya “terang bercahaya”.

 

Dalam Alquran, kata “nur” memiliki banyak pengertian, di antaranya:

  • Cahaya Allah Swt. , sebagaimana dalam surah At-Taubah : 37

يريدون أن يطفئوا نورالله بأفواههم و يأبي اللهُ إلاّ أن يتمّ نورَه و لو كره الكافرون        

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan mereka) dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang kafir tidak suka”

  • Al-Quran, seperti dalam firmanNya Surah Al-Araf: 157

فا الّذين  آمنوا به و عزّروه ونصروه  واتّبعوا النّورَ الّذي  أُنزل  معه  أُولئك  هم  المفلحون

“Mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung”

  • Rasulullah Saw. seperti dalam firmanNya Surah Al-Maidah: 15

قد جاء كم مّن الله  نور  وكتاب مبين

“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya (Nabi Muhammad Saw.) dari Allah, dan kitab (Al-Quran) yang menerangkan”.

  • Petunjuk, seperti dalam firmanNya Surah Az-Zumar: 22

أفمن  شَرَح  اللهُ  صدرَه  للإسلام فهو على  نور من  ربه

“ Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membantu hatinya)?”.

 

 

  • Ilmu pengetahuan, seperti dalam surah Ibrahim: 1

آلر. كتاب  أَنزَلناه  إليك  لِتُخْرِجَ  النّاسَ  من  الظُّلمات  إلى  النّور  بإذن  ربّهم  إلى  صراطِ  العزيز  الحميد

“ Alif, lâm râ. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Dari beberapa pengertian nur atau nurani di atas, maka kami simpulkan bahwa pengertian nurani adalah cahaya dari Allah yang dinisbahkan kepada sinarnya.

Dan pengertian dari suara hati nurani adalah kekuatan dalam bentuk bisikan yang datang dari dalam diri manusia yang hatinya sudah mendapat sinar dari Allah, sehingga ia dapat membedakan mana yang baik untuk dilakukan, dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan. Dia memerintah untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dan melarang hal yang sebaliknya. Ketika kewajiban dilaksanakan, tanggung jawab diselesaikan dan segala perintahnya dituruti, respon hati nurani akan lapang, trenang, dan puas. Namun sebaliknya, apabila kewajiban dikebelakangkan, dia akan merasa sedih dan takut serta menjadi beban pikiran.

Suara hati nurani ( intuisi atau insting bathin ) merupakan anugerah fitrah dari Allah. Berbeda dengan akal. Akal merupakan hasil perolehan ( iktisabiy )[6] , maksudnya, potensi akal kita semua sama, tergantung pemeliharaan dan pemupukannya. Sedangkan hati nurani itu murni adanya.

Hati nurani yang memerintahkan agar menetapi kewajiban, bukan karena balasan dan siksaan, kecuali ganjaran terhadap dirinya dengan merasa gembira dan siksaan dirinya karena merasa tercela dan menyesal. Sebagian ada yang mengatakan “Di dalam bathin manusia itu ada dua suara, suara was-was ( temptation ) dan hati nurani. Masing-masing dari dua suara itu adalah kecenderungan yang tertekan, karena pada manusia itu ada keinginan baik, ada keinginan buruk. Apabila keinginan buruk itu ditekan, terdengar suara suara was-was dan bujukan yang mengajak ke arah keburukan, dan bila keinginan baik ditekan terdengar hati nurani menderita karena keburukan dan memanggil berbuat baik, maka was-was itu adalah suara keburukan yang menguasai kebaikan, dan hati nurani itu adalah suara kebaikan yang menguasai keburukan.[7]

B. Sumber Suara Hati Nurani

Suara hati nurani itu bersumber dari Sang Pencipta, yaitu Allah Swt. , sebagaimana dalam surah Ali Imran ayat 60 :

الحقُّ  من  ربّك  فلا  تكنْ  مّن  الممترين

Mengutip dari kata-kata mutiara Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengenai sumber suara hati nurani yang berbunyi

إنّما  اَوْرَدَ  عليك  الواردُ  لتكون  به  عليه  وارِدًا

(Sesungguhnya Allah mendatangkan cahaya ilahi {warid} itu kepadamu agar kamu dengan warid itu menjadi orang yang menghadap dan masuk ke hadiratNya).[8]

Suara hati nurani adalah fitrahnya manusia yang datang dari Allah. Suara hati nurani seorang insan akan selalu baik ketika nur Allah sudah meresap dan menetap di hatinya. Menurut Al-Arif billah Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani, pengarang kitab Iqazhu al- Himam fi Syarhi al-Hikam, bahwa cahaya Allah yang diletakkan di hati hambaNya ( nūr warid ) melalui tiga fase :

  • Nūr Islam, cahayanya seperti bintang, lemah. Cahaya ini merubah keadaan hamba dari gelapnya kekufuran dan kedurhakaan kepada cahaya keislaman, tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Disebut juga dengan nūr syari’at.
  • Nūr Iman, cahayanya menyinari hati manusia agar ikhlas beramal dan mengabdi kepadaNya. Disebut juga dengan nūr thariqat.
  • Nūr Ihsan, yaitu cahaya yang menyingkap gelapnya terhijab dari Allah, sehingga orang yang berada pada maqam ini sudah tidak ada lagi penghalang antara hamba dan Allah.

 

  1. C.  Ciri-Ciri Suara Hati Nurani

Adapun mengenai ciri-ciri suara hati nurani itu adalah :

  • Merupakan anugerah dari Allah yang fitrah dalam diri setiap manusia.
  • Berupa ilham dari Allah
  • Cenderung memberikan respon positif dalam hal kebaikan dan respon negative untuk keburukan.

 

D. Perbedaan Suara Hati Nurani

Kita mengerti bahwa hati nurani itu berbeda-beda. Perbedaannya agak besar diantara bangsa-bangsa yang telah maju sekalipun. Bangsa-bangsa itu di dalam melakukan kebaikan dan keburukan, dan diikutinya perbedaan mereka dalam hati nurani masing-masing.

Hati nurani berbeda karena masanya. Bila kita bandingkan hati nurani suatu bangsa pada saat ini, dengan hati nurani pada dua tiga abad yang telah lalu, kita dapatkan perbedaan besar. Pada abad-abad yang lalu, perbudakan itu adalah hal yang biasa dan perempuan siperlakukan secara kasar, sedang dahulu suara hati tidak memungkirinya sedang bangsa sekarang mencerca perbuatan itu dan mencela melakukannya.

Manusia berbeda hati nuraninya karena perbedaan waktunya. Terkadang ia menyaksikan sesuatu yang baik dalam suatu waktu sehingga bila meningkat pikirannya ia melihat buruk, dan begitu sebaliknya.[9]

  1. E.  Tingkatan Suara Hati Nurani

Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, bahwa hati nurani ( suara hati ) mempunyai tiga tingkatan, yaitu :

  • Perasaan melakukan kewajiban karena takut kepada manusia
  • Perasaan mengharuskan mengikutinya apa yang harus diperintahkan,
  • Tidak sampai kepada tingkatan ini kecuali orang-orang besar dan para pemimpin ulung. Yaitu rasa seharusnya mengikuti apa yang dipandang benar oleh dirrinya, berbeda dengan pendapat orang atau mencocokinya, menyalahi undang-undang yang terkenal di kalangan manusia atau mencocokinya.[10]

                                                                       

  1. F.      Hubungan Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak

Suatu perbuatan, baru dapat dikategorikan sebagai perbuatan akhlaki atau perbuatan yang dapat dinilai berakhlak, apabila perbuatan tersebut dilakukan atas dasar kemauan sendiri, bukan paksaan, dan bukan pula dibuat-buat dan dilakukan dengan tulus ikhlas. Untuk mewujudkan perbuatan akhlak yang ciri-cirinya demikian, baru bisa terjadi apabila orang yang melakukannya memilki kebebasan atau kehendak yang timbul dari dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, perbuatan yang berakhlak itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja secara bebas. Disinilah letak hubungan antara kebebasan dan akhlak.

Selanjutnya, akhlak juga harus dilakukan atas dasar kemauan sendiri dan bukan paksaan. Perbuatan yang seperti inilah yang dapat dimintakan pertanggungjawabannya dari orang yang melakukannya. Disinilah letak hubungan antara tanggung jawab dan akhlak.

Akhlak juga harus muncul dari keikhlasan hati yang melakukannya, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada hati sanubari, maka hubungan akhlak dengan kata hati menjadi demikian penting.

Dengan demikian, maslah kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani adalah merupakan faktor dominan yang menentukan suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai perbuatan akhlaki. Disinilah letak hubungan fungsional antara kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani dengan akhlak. Karenanya dalam membahas akhlak seseorang tidak dapat meninggalkan pembahasan mengenai kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani.[11]

  1. G.   Fungsi Suara Hati Nurani

Adapun fungsi kekuatan hati nurani, dapat disebutkan bahwa :

  • Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, akan memberi petunjuk dan menakuti dari kemaksiatan.
  • Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, akan mendorongnya untuk menyempurnakan perbuatan yang baik dan menahan dari perbuatan yang buruk.
  • Apabila kekuatan menyusul setelah perbuatan, akan merasa gembira dan senang apabila melakukan perbuatan yang di taati, namun akan merasa sakit dan pedih waktu melanggar prbuatan tercela.[12]

Suara hati juga berfungsi sebagai pembeda antara yang baik dan yang buruk sesuai dengan faham yang dianut, namun tanpa melihat akibat selanjutnya.[13]

Kembali mengambil kalimat dari Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengenai fungsi suara hati nurani.

اَوْرَدَ  عليك  الواردُ  ليَتَسَلَّمكَ  من يد الأغيار  و يُهَرِّرُكَ  من وَرَقِ  الأثار

( Allah mendatangkan warid kepadamu agar kamu selamat dari cengkraman duniawi dari nafsu syahwat, serta agar kamu bebas dari belenggu sifat-sifat untuk menuju ke alam penglihatanmu kepada Nya )

 

  1. H.  Pemeliharaan Hati

Suara hati yang benar-benar dari Allah dan mendorong kepada kebaikan tentu memerlukan pemeliharaan, didikan, dan perawatan yang efisien agar tetap pada kodratnya, yaitu mendorong kepada kebaikan. Berkaitan dengan ini, hati lah yang berperan penting sebagai objek pemeliharaan, karena disanalah cahaya Allah bertempat sehingga seorang hamba menjadi dekat dengan Allah, dan suara hatinya itu benar-benar ilham dari Allah, tanpa terkontaminasi oleh bisikan syaithan.

 

تنوّعْتَ  أجْناسُ الأعمال  لِتَنوُّعِ  وارداتِ  الأحوال

“jenis amal beragam karena kondisi spiritual yang Dia berikan juga beragam”

Kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa apa yang terungkap dalam kata, sikap, dan perbuatan kita adalah cerminan dari keadaan hati kita. Ini berkaitan dengan asupan ruhani yang kita terima. Asupan itu berkaitan dengan keluasan dan kesempitan hati kita dalam membangun kedekatan dengan-Nya. Ada saat kita tiba-tiba menjadi sangat bijak dan ramah, ada saat kita bersikap sangat dingin, dan tak sedikit saat kita juga meledak-ledak. Untuk semua kondisi ini, bersikaplah tulus agar kita bisa melewatinya dengan mulus. Bersikaplah wajar agar kita tidak tercemar. [14]

Urgensi dari pemeliharaan hati ini sangat perlu diperhatikan. Apalagi jika kita mengingat sabda Rasulullah yang berbunyi

إنّ في جسد ابن آدم مضغةً, إذا صلُحت, صلُح الجسدُ كله, اَلاَ و هي القلب

“Sesungguhnya, dalam tubuh anak adam terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, ia adalah hati”.

Sangat jelas hadits diatas menyatakan bahwa hati lah pangkal dari seorang manusia. Pusat dari segala perbuatannya selama hidupnya tergantung dari hatinya. Jika hatinya baik, maka hidupnya pun akan baik, dan begitulah sebaliknya.

Di dalam Al-Quran, tepatnya pada surah Ar-Ra’ad: 28, dijelaskan mengenai tips untuk mengontrol hati kita, ayat tersebut berbunyi

الّذين ءامنوا و  تَطْمَئِنُّ  قلوبُهم  بذكراللهۗ  ألا  بِذكر  الله  تطمئنّ  القلوب

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram.”

Jadi, dzikrullah merupakan salah satu cara yang ampuh untuk memelihara hati, atau bahkan untuk menghilangkan segala macam kotoran hati. Dan cara ini sudah dijamin mujarabnya, karena Allah lah yang memberikan resepnya.

PENUTUP

Kesimpulan

             Suara hati nurani adalah kekuatan dalam bentuk bisikan yang datang dari dalam diri manusia yang hatinya sudah mendapat sinar dari Allah, sehingga ia dapat membedakan mana yang baik untuk dilakukan, dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan. Dia memerintah untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dan melarang hal yang sebaliknya. Ketika kewajiban dilaksanakan, tanggung jawab diselesaikan dan segala perintahnya dituruti, respon hati nurani akan lapang, tenang, dan puas. Namun sebaliknya, apabila kewajiban dikebelakangkan, dia akan merasa sedih dan takut serta menjadi beban pikiran.

 

             Ciri-ciri suara hati nurani adalah :

  • Merupakan anugerah dari Allah yang fitrah dalam diri setiap manusia.
  • Berupa ilham dari Allah
  • Cenderung memberikan respon positif dalam hal kebaikan dan respon negative untuk keburukan.

 

 

             Suara hati nurani murni bersumber dari Allah Swt.

             Inti dari permasalahan “suara hati nurani” ini letaknya pada hati. Jadi, hati lah yang berperan penting dan harus diperhatikan agar menghasilkan suara, atau cahaya nurani yang bagus, yang bisa memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada kita.

             Hati nurani itu bersifat dari Allah.

             Hidup itu harus benar, dan jika ingin benar, kita harus bersama Allah.

             Konsekuensi kerjaan diri kita itu kembalikan kepada diri kita sendiri.

 

 

 

 

î

Daftar pustaka

Ghazali, Imam. 1957. Ihyā ‘Ulūmuddin. (Surabaya: Maktabah Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Nabhan wa aulāduhu)

Ĝurĝânî, (al) Ali. 1985. Kitâb Al-Ta’rîfât.  (Bâyrūt, Lubnân: Maktabah Lubnân)

Mujib, Abdul. M. Ismail, Ahmad. Syafi’ah. September 2009. Ensiklopedi Tasawuf IMAM GHAZALI Mudah Memahami dan Menjalankan Kehidupan. (Jakarta Selatan: PT. Mizan Republika)

Mustofa, A.  Mei 2010.  Akhlak Tasawuf. (Bandung: CV. Pustaka Setia)

Mz, Labib. Tth. Hakekat Ma’rifat ( matnu al Hikam syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari ). (Surabaya: Penerbit Bintang Usaha Jaya)

Nata, Abdullah. Tth. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Press)

Santoso. Ananda, AK Hanif, A. R. tth. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. (Surabaya: Alumni)

Sibawaih, Imam. 2011. Al-Hikam Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah. (Bandung: Gita Print).

Yunus, Mahmud. 1989. Kamus Arab-Indonesia. (Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah).

 

 

 

 

 

 


[1]A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia: Bandung, h.117-118

[2]Ali Al Ĝurĝânî, Kitâb Al-Ta’rîfât, (Bâyrūt, Lubnân: Maktabah Lubnân, 1985 M), h. 140

[3]Aditya Lukman, Kamus Bahasa Indonesia, tth.

[4]Imâm Al-Ghazali, Iĥyā ‘Ulūmuddin, (Surabaya: Maktabah Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Nabhan wa aulāduhu), h. 35

[5]Ibid

[6]Abuddin Nata, Akhlak Tashawuf, (Jakarta: Rajawali Press, tth), h.112-113

[7]A. Mustofa, op. cit, h. 118-119

[8]Labib. Mz, Hakekat Ma’rifat (matnul hikam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari), (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, tth), h.214

[9]Ibid, h.119-120

[10]Ibid, h. 121

[11]Abuddin Nata, op. cit., h.136

[12]A. Mustofa, op. cit., h.118

[13]Abuddin Nata, op. cit, h. 111

[14]Imam Sibawaih El-Hasany, Al-Hikam Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah, cet.IV (Bandung: Gita Print, 2011), h. 24-25

Posted in Uncategorized

kekuatan si kecil yang besar

kekuatan si kecil yang besar

SUBHANALLAH,.
satu lagi sebuah riset membuktikan kebesaran ALLah,.
yaitu, bahwa semut binatang kecil ini memiliki kekuatan yang luar biasa hingga mencapai 50 kali berat badannya sendiri,. menakjubkan bukan!!???

dan tentunya kita bukan hanya sekedar mengaguminya, namun ini merupakan bukti nyata bahwa Dia Maha KUASA. dan sebagai pelajaran bagi manusia, bahwa yang kecil jangan di anggap remeh, dan kita harus terus selalu yakin terhadap kemampuan yang diberikan Allah kepada kita yg kita gunakan didunia pastinya diatas jalan yg diridoi-NYA.

Posted in Uncategorized

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW LengkapNabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang di utus ke muka bumi ini. Setelah nabi Muhammad SAW tidak ada nabi lagi setelahnya. Nabi Muhammad SAW adalah panutan atau teladan bagi umat Islam. Tanpa jasa dan usahanya mungkin sampai saat ini kita tidak akan pernah memeluk agama Islam. Berikut ini sekelumit kisahnya yang harus kita ketahui:

   
 
1. Masa Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah

Pada masa kelahiran Nabi Muhammad SAW terdapat kejadian yang luar biasa yaitu ada serombongan pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah (Gubernur kerajaan Habsyi di Yaman) hendak menghancurkan Kakbah karena negeri Makkah semakin ramai dan bangsa Quraisy semakin terhormat dan setiap tahunnya selalu padat umat manusia untuk haji. Ini membuat Abrahah iri dan Abrahah berusaha membelokkan umat manusia agar tidak lagi ke Makkah. Abrahah mendirikan gereja besar di Shan’a yang bernama Al-Qulles. Namun tak seorang pun mau datang ke gereja Al Qulles itu. Abrahah marah besar dan akhirnya mengerahkan tentara bergajah untuk menyerang Kakbah. Didekat Makkah pasukan bergajah merampas harta benda penduduk termasuk 100 ekor Unta Abdul Muthalib

Dengan tak disangka Abdul Munthalib kedatangan utusan Abrahah supaya menghadap ke Abrahah. Yang pada akhirnya Abdul Munthalib meminta Untanya untuk dikembalikan dan bersedia mengungsi bersama penduduk dan Abdul Munthalib berdo’a kepada Allah supaya Kakbah diselamatkan.

Keadaan kota Makkah sepi tentara Abrahah dengan leluasa masuk Makkah dan siap untuk menghancurkan Kakbah. Allah SWT mengutus burung Ababil untuk membawa kerikil Sijjil dengan paruhnya. Kerikil itu dijatuhkan tepat mengenai kepala masing-masing pasukan bergajah tersebut hingga tembus ke badan sampai mati. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5). Pasukan bergajah hancur lebur mendapat adzab dari Allah SWT.

Pada masa itu lahir bayi yang diberi nama Muhammad dari kandungan ibu Aminah dan yang ber-ayahkan Abdullah. Muhammad lahir sudah yatim karena saat nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan ayahnya sudah meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah dan bertepatan tanggal 22 April 571 M.

2. Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah

Pada zaman kelahiran nabi Muhammad SAW masyarakat Makkah mempunyai kebiasaan jahiliyah yaitu kebiasaan menyembah patung atau berhala. Jahiliyah artinya zaman kebodohan. Yang disembah bukan Allah tetapi patung atau berhala dan kebiasaannya sangat buruk yaitu mabuk, berjudi, maksiat dan merendahkan derajat wanita. Mereka hidup berpindah-pindah dan terpecah dalam suku-suku yang disebut kabilah. Hidup serba bebas tidak ada aturan dalam bermasyarakat. Sehingga kehidupan sangat kacau balau.

Nah, di saat kekacaubalauan masyarakat Makkah itu lahir Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

3. Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad SAW hingga Masa Kerasulannya

Kebiasaan di kalangan pemuka pada saat itu apabila mempunyai bayi, maka bayi yang baru lahir itu dititipkan kepada kaum ibu pedesaan. Dengan tujuan agar dapat menghirup udara segar dan bersih serta untuk menjaga kondisi tubuh ibunya agar tetap sehat.

Menurut riwayat, setelah Muhammad dilahirkan disusui oleh ibunya hanya beberapa hari saja, Tsuaibah menyusui 3 hari setelah itu oleh Abdul Munthalib disusukan kepada Halimah Sa’diyah istri Haris dari kabilah Banu Saad.

Semenjak kecil Muhammad memiliki keistimewaan yaitu badannya cepat besar, umur 5 bulan sudah dapat berjalan dan umur 9 th sudah lancar berbicara serta umur 2 th sudah menggembalakan kambing dan wajahnya memancarkan cahaya.

Muhammad diasuh Halimah selama 6 th. Pada usia 4 th Muhammad didekati oleh malaikat Jibril dan menelentangkannya lalu membelah dada dan mengeluarkan hati serta segumpal darah dari dada nabi Muhammad SAW lalu Jibril mencucinya kemudian menata kembali ke tempatnya dan Muhammad tetap dalam keadaan bugar.

Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, Halimah khawatir dan mengembalikan Muhammad ke ibundanya. Pada usia 6 th nabi diajak Ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib dengan perlalanan 500 km. Dalam perjalanan pulang ke Makkah Aminah sakit dan akhirnya meninggal di Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Nabi Muhammad lantas ditemani Ummu Aiman ke Makkah dan diantarkan ke tempat kakeknya yaitu Abdul Munthalib. Sejak itu Nabi menjadi yatim piyatu tidak punya ayah dan ibu. Abdul Munthalib sangat menyayangi cucunya ini (Muhammad) dan pada usia 8 th 2 bl 10 hari Abdul Munthalib wafat. Kemudian Nabi diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib.

Abu Thalib mengasuh menjaga nabi sampai umur lebih dari 40 th. Pada usia 12 th nabi diajak Abu Thalib berdagang ke Syam. Di tengah perjalanan bertemu dengan pendeta Bahira. Untuk keselamatan nabi Bahira meminta abu Thalib kembali ke Makkah.

Ketika Nabi berusia 15 th meletus perang Fijar antara kabilah Quraisy bersama Kinanah dengan Qais Ailan. Nabi ikut bergabung dalam perang ini dengan mengumpulkan anak-anak panah buat paman-paman beliau untuk dilemparkan kembali ke musuh.

Pada masa remajanya Nabi Muhammad biasa menggembala Kambing dan pada usia 25 th menjalankan barang dagangan milik Khadijah ke Syam. Nabi Muhammad SAW dipercaya untuk berdagang dan ditemani oleh Maisyarah. Dalam berdagang nabi SAW jujur dan amanah serta keuntungannya melimpah ruah.

Peristiwa tentang cara dagangnya nabi SAW itu diceritakan Maisyarah ke Khadijah. Lantas Khadijah tertarik dan mengutus Nufaisah Binti Mun-ya untuk menemui Nabi agar mau menikah dengan Khadijah. Setelah itu Nabi memusyawarahkan kepada pamannya dan disetujuinya akhirnya Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad SAW dengan mas kawin 20 ekor Onta Muda.

Usia Khadijah waktu itu 40 th dan Nabi Muhammad SAW 25 th. Dalam perkawinannya Nabi dianugerahi 6 putra-putri yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Semua anak laki-laki nabi wafat waktu masih kecil dan anak perempuannya yang masih hidup sampai nabi wafat adalah Fatimah.

Masa Kerasulan Nabi Muhammad SAW

Pada usia 35 th lima tahun sebelum kenabian ada suatu peristiwa yaitu Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke baitul Haram yang dapat meruntuhkan Kakbah. Dengan peristiwa itu orang-orang Quraisy sepakat untuk memperbaiki Kakbah dan yang menjadi arsitek adalah orang Romawi yang bernama Baqum.

Ketika pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad mereka saling berselisih tentang siapa yang meletakkan hajar Aswad ditempat semula dan perselisihan ini sampai 5 hari tanpa ada keputusan dan bahkan hampir terjadi peretumpahan darah. Akhirnya Abu Umayah menawarkan jalan keluar siapa yang pertama kali masuk lewat pintu Masjid itulah orang yang memimpin peletakan Hajar Aswad. Semua pada sepakat dengan cara ini. Allah SWT menghendaki ternyata yang pertama kali masuk pintu masjid adalah Rasulullah SAW dan yang berhak adalah Rasulullah.

Orang-orang Quraisy berkumpul untuk meletakkan Hajar Aswad . Rasulullah meminta sehelai selendang dan pemuka-pemuka kabilah supaya memegang ujung-ujung selendang lalu mengangkatnya bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya Nabi mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya ke tempat semula akhirnya legalah semua. Mereka pada berbisik dan menjuluki “Al-Amin” yang artinya dapat dipercaya.

Nabi Muhammad SAW mempunyai kelebihan dibanding dengan manusia biasa, beliau sebagai orang yang unggul, pandai, terpelihara dari hal-hal yang buruk, perkataannya lembut, akhlaknya utama, sifatnya mulia, jujur terjaga jiwanya, terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, tepat janji, paling bisa dipercaya sehingga mendapat julukan Al-Amin dan beliau juga membawa bebannya sendiri, memberi kepada orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun yang hendak menegakkan kebenaran.

Pada saat Nabi Muhammad SAW hampir berusia 40 th kesukaannya mengasingkan diri dengan berbekal Roti dan pergi ke Gua Hira di Jabal Nur. Rasulullah di Gua Hira beribadah dan memikirkan keagungan alam. Pada usia genap 40 th Nabi dianggkat menjadi Rasul. Beliau menerima wahyu yang pertama di gua Hira dengan perantaraan Malaikat jibril yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.

Ketika Nabi berada di gua Hira datang malaikat Jibril dan memeluk Nabi sambil berkata “Bacalah”. Jawab Nabi “Aku tidak dapat membaca” Lantas Malaikat memegangi dan merangkul Nabi hingga sesak kemudian melepaskannya dan berkata lagi “Bacalah”. Jawab Nabi”Aku tidak bisa membaca”. Lantas Malaikat memegangi dan merangkulnya lagi sampai ketiga kalinya sampai Nabi merasa sesak kemudian melepasknnya. Lalu Nabi bersedia mengikutinya (Surat Al-Alaq ayat 1-5). QS 96 : 1-5)

Rasulullah mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar lalu pulang dan menemui Khadijah (isterinya) untuk minta diselimutinya. Beliau diselimuti hingga tidak lagi menggigil tapi khawatir akan keadaan dirinya.

Khadijah menemui Waraqah bin Naufal dan menceritakan kejadian yang dialami oleh Nabi. Waraqah menanggapi “Maha suci, Maha suci, Dia benar-benar nabi umat ini, katakanlah kepadanya, agar dia berteguh hati.

4. Rasulullah Berdakwah

Rasulullah SAW di kala mengasingkan diri di Gua Hira dengan perasaan cemas dan khawatir tiba-tiba terdengan suara dari langit, beliau menengadah tampak malaikat jibril. Beliau menggigil, ketakutan dan pulang minta kepada isterinya untuk menyelimutinya. Dalam keadaan berselimut itu datang Jibril menyampaikan wahyu yang ke dua yaitu surat Al Muddatsir (QS 74 ayat 1-7).

Dengan turunnya wahyu ini Rasulullah SAW mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam dan mengajak umat manusia menyembah Allah SWT.

1). Menyiarkan Agama Islam Secara Sembunyi-Sembunyi

Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu kedua mulailah beliau dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat beliau seorang demi seorang masuk Islam.

Orang-orang yang pertama-tama masuk Islam adalah:

a). Siti Khadijah (Istri Nabi SAW)

b). Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)

c). Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi SAW)

d). Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi SAW)

 
Orang-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:

a). Utsman Bin Affan

b). Zubair Bin Awwam

c). Saad Bin Abi Waqqash

d). Abdurahman Bin Auf

e). Thalhah Bin “Ubaidillah

f). Abu Ubaidillah Bin Jarrah

g). Arqam Bin Abil Arqam

h). Fatimah Binti Khathab

Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal Awwaluun” Artinya orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam dan mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil Arqam.

2). Menyiarkan Agama Islam Secara Terang-Terangan

Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW dakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian turun surat Al Hijr: 94 (QS 15 ayat 94). Artinya”Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (QS Al Hijr : 15). Dengan turunnya ayat ini Rasulullah SAW menyiarkan dakwah secara terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi. Agama Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang ramai dikalangan masyarakat Makkah. Islam semakin meluas dan pengikutnya semakin bertambah.

5. Bagaimana tanggapan orang-orang Quraisy?

Orang-orang quraisy marah dan melarang penyiaran islam bahkan nyawa Rasul terancam. Nabi beserta sahabatnya semakin kuat dan tangguh tantangan dan hambatan dihadapi dengan tabah serta sabar walaupun ejekan, cacian, olok-olokan dan tertawaan, menjelek-jelekkan, melawan al-Qur’an dan memberikan tawaran bergantian dalam penyembahan.

Dakwah secara terangan ini walaupun banyak tantangan banyak yang masuk Agama Islam dan untuk penyiaran Islam Nabi SAW ke Habasyah (Etiopia),Thaif, dan Yatsrib (Madinah). Sehingga Islam meluas dan banyak pengikutnya.

Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW th ke 10 pada saat “Amul Khuzni”artinya tahun duka cita yaitu Abu Thalib (pamannya wafat) dan siti Khadijah (istri nabi juga wafat) serta umat Islam pada sengsara. Ditengah kesedihan ini Nabi Muhammad dijemput oleh Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu sebuah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram dan dari Masjidil Haram menuju ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu.

6. Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah

Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi:

Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21).

Untuk dapat meneladani Rasulullah SAW harus banyak belajar dari Al-Qur’an dan Al Hadits. Sebagai salah satu contoh saja yaitu tentang kejujuran dan amanah atau dapat dipercayanya nabi Muhammad SAW.

7. Sifat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW mempunyai sifat yang baik yaitu:

1). Siddiq

Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat bohong (kidzib) Rasulullah sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun perkataannya. Apa yang dikatakan dan disampaikan serta yang diperbuat adalah benar dan tidak bohong. Karena akhlak Rasulullah adalah cerminan dari perintah Allah SWT.

2). Amanah

Amanah artinya dapat dipercaya. Sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat Khianat atau tidak dapat dipercaya. Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah SWT. Rasulullah taat kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan risalah sesuai dengan petunjuk Allah SWT tidak mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT maupun kepada umatnya.

3). Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan. Rasulullah sangat tidak mungkin untuk menyembunyikan (kitman). Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya tidak ada yang ditutup- tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir. Rasulullah menyampaikan risalah secara sempurna sesuai dengan perintah Allah SWT.

4). Fathonah

Fathonah artinya cerdas. Sangat tidak mungkin Rasul bersifat baladah atau bodoh. Para Rasul semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan wahyu yang telah diterima dari Allah SWT. Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat tidak mungkin Rasul itu bodoh. Apabila bodoh bagaimana bisa menyampaikan wahyu Allah.

8. Haji Wada’ Rasulullah SAW

Pada tahun 10 H, nabi Muhammad SAW melaksanakan haji yang terakhir yautu haji wada’. Sekitar 100 ribu jamaah yang turut serta dalam ibadah haji bersama beliau. Pada saat wukuf di arafah Nabi SAW menyampaikan khutbahnya dihadapan umatnya yaitu yang berisi pelarangan melaksanakan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar, melarang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, melarang makan makanan yang riba dan menganiaya, hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, dan umatnya supaya berpegang teguh dengan Al Qur’an dan sunah Nabi SAW.

Dalam surat Al Maidah ayat 3 telah diungkapkan bahwa:

Artinya: “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan sungguh telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al Maidah (5) : 3).

Ayat ini menjelaskan bahwa dakwah nabi Muhammad SAW telah sempurna. Nabi Muhammad SAW dakwah selama 23 tahun. Pada suatu hari beliau merasa kurang enak badan, badan beliau semakin tambah melemah, beliau menunjuk Abu Bakar sebagai imam pengganti beliau dalam shalat. Pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah beliu wafat dalam usia 63 tahun.

B. Nabi Muhammad SAW Rahmatan Lil ‘Alamin

Nabi Muhammad SAW adalah nabi akhiruzzaman yaitu nabi yang terakhir di dunia ini. Maka setelah nabi Muhammad Saw tidak ada nabi lagi di dunia ini. Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘Alamin yaitu untuk semua manusia dan bangsa. Nabi Muhammad Saw diutus untuk memberikan bimbingan kepada manusia agar menjalani hidup yang benar sehingga dapat memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akherat.

Misi Nabi Muhammad SAW

Misi yang dibawa nabi Muhammad SAW adalah cerminan atau panutan bagi seluruh umat manusia yaitu sebagai berikut:

a. Menyiarkan agama Islam

Islam disiarkan atau didakwahkan Rasulullah SAW secara sempurna terhadap umat manusia yaitu selama 23 tahun.

b. Menyampaikan wahyu Allah SWT

Wahyu Allah SWT yaitu berupa Al Qur’an. Al Qur’an ini di dakwahkan kepada umat manusia dan bangsa sebagai pedoman hidup.

c. Menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada umat manusia

d. Menyempurnakan akhlak yaitu akhlak Qurani

Misi nabi Muhammad SAW tidak hanya dikalangan kaum tertentu saja akan tetapi Rasulullah SAW diutus untuk seluruh kaum dan bangsa dan ajarannya berlaku untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Dari berbagai sumber

Posted in Uncategorized

Cuma Kata Pengantar Punya Teman

KATA PENGANTAR

Oleh : Ari Swedhan

Bicara masalah keindahan, dalam hal tulisan maka kita selalu bergerut tertuju pada Puisi, dan bakalan  terlena dengan rangkaian kalimat yang di tulis oleh seseorang, dimana tulisan itu dipenuh dengan makna yang berasal dari pengalaman maupun intuisi sang penulis, ya porsi kita sebagai manusia bisa terpaut oleh beberapa topik yang menjadi fenomena hidup saaat ini, nah disinilah kita dapat manfaatkan karya sebaik baiknya.

Tentunya setiap insan yang terlahir ke dunia ini menyukai keindahan, keindahan itu bisa kita raba, rasakan, bahkan bisa kita resapi secara faktual. Oke beralih pada sikon dan komitmen, saya tercenang membaca puisi-puisinya Ahmad jayadi, disini puisi-puisi yang ia tulis bisa dijadikan sebagai pewarna dari apa kata keindahan itu, keindahan tentunya selalu tersirat dalam makna puisi, rangkaian kalimat pilihan pastinya, seperti yang saya baca dari puisi ahmad jayadi yang berjudul “Langkah Kakimu Di Rel Kereta Itu

aku bak anjing yang haus akan langkahmu yang mulai layu
ingin kujilat habis sampai waktu melangkah pergi
melepas setiap bekas langkahmu di rel kereta itu

mengisahkan pengalaman pribadi dia yang mana rel kereta api menjadi hal yang sangat membekas dalam hatinya, lugas dan cukup ngotot, sehingga kata-kata yang di tulis membayangkan sesuatu yang sakral namun terdapat sentuhan inspirasi yang ditulis, cukup mengesankan. Ini karya anak muda yang patut di acungi jempol. Semangat untuk karyanya.. dan selalu warnailah alam ini dengan keindahan puisi. Siapapun dan apapun.

Spirit and fight for your life.

Banjarmasin, 2013 M

Posted in Uncategorized

Natural

The natural sciences are those branches of science that seek to elucidate the rules that govern the natural world through scientific methods.[1] The term “natural science” is used to distinguish the subject from the social sciences, which apply the scientific method to study human behavior and social patterns; the humanities, which use a critical or analytical approach to study the human condition; and the formal sciences such as mathematics andlogic, which use an a priori, as opposed to factual methodology to study formal systems.

There are five branches of natural science: astronomy, biology, chemistry, the Earth sciences and physics.[2][3] This distinguishes sciences that cover inquiry into the world of nature from human sciences such as anthropology, sociology and linguistics, and from formal sciences such as mathematics and logic.[2] Despite their differences, these sciences sometimes overlap; the social sciences and biology both study human beings as organisms, for example, and mathematics is used regularly in all the natural sciences.[2]

The natural sciences are among the basic sciences, or scientific fields where study is motivated purely by curiosity.[4] They also form the basis for applied sciences, however, which find real-world, practical applications for concepts and methods developed in basic science.[5] In academic contexts, the natural and applied sciences are distinguished from the social sciences on the one hand, and the humanities on the other.[6] Not all institutions and scientists are in agreement, however, about the classification of sciences and other academic disciplines.[7]

Alongside its traditional usage, natural science may encompass natural history, which emerged in the 16th century and focused on the description and classification of plants, animals, minerals and other natural objects.[8] Today, natural history refers to observational descriptions of the natural world aimed at popular audiences rather than an academic ones.[9] The natural sciences are sometimes referred to colloquially as hard science, or fields seen as relying on experimental, quantifiable data or the scientific method and focusing on accuracy and objectivity.[10] These usually include physics, chemistry and biology.[10] By contrast, soft science is used a as a pejorative term to describe fields more reliant on qualitative research, including the social sciences.[10]

we Hope this is WordPress, can help us to succes.

Banjarmasin, 24 Desember 2012 MImage

 

 

Tagged with:
Posted in Uncategorized