Suara Hati Nurani

Gambar

Pendahuluan

Di dalam jiwa manusia dirasakan ada suatu kekuatan yang berfungsi untuk memperingatkan, mencegah dari perbuatan yang buruk. Atau sebaliknya, kekuatan itu mendorong terhadap perbuatan yang baik. Ada perasaan yang tidak senang apabila sedang mengerjakan sesuatu karena tidak tunduk pada kekuatan. Apabila telah menyelesaikan perbuatan tercela, mulailah kekuatan itu memarahinya dan merasa menyesal atas perbuatan itu.

Kondisi perasaan yang lain bahwa kekuatan tersebut memerintah agar melakukan kewajiban. Kemudian mendorong untuk melangsungkan perbuatannya. Dan setelah selesai, dia merasakan lapang dada dan gembira.

Gambaran keadaan jiwa di atas menunjukkan bahwa manusia di dalamnya ada hati nurani. Ia merupakan kekuatan yang mendahului, mengiringi, dan menyusul pada kekuatan.[1]

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah, agar pembaca, dan penyaji khususnya dapat memahami berbagai permasalahan yang menyangkut suara hati nurani.

Berbagai macam komentar, tambahan, sanggahan, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penyusun demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

  1. A.  Pengertian  Suara, Hati, dan Nurani
    1. 1.   Pengertian Suara

Suara, dalam bahasa arab adalah  الصّوت .

Sedangkan di dalam kitab al- Ta’rîfât, karangan al Fadhil al ‘Allamah Ali bin Muhammad al Syarif al Turjani, الصّوت artinya

كَيْفِيَّةٌ قَا ئِمَةٌ بِالْهَوَاءِ يَحْمِلُهَا اِلَي الصَّمَاخِ[2]

Dan di dalam Kamus Bahasa Indonesia, suara adalah bunyi yang keluar dari mulut manusia.[3]

  1. 2.  Pengertian Hati

Hati, sebagaimana yang telah diketahui, ia adalah salah satu organ tubuh yang ada di dalam rongga perut manusia di sebelah kiri. Hati merupakan organ tubuh yang ukurannya paling besar, dan paling berat di antara organ tubuh lainnya.

Di dalam Kamus Arab-Indonesia  yang disusun oleh Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, istilah  قَلْبٌ artinya “hati, jantung, akal”.

Dan dari Kamus Lengkap Bahasa Indonesia yang disusun oleh Ananda Santoso dan A. R. AK Hanif, hati artinya “bagian isi rongga dada yang menyimpan sari makanan, sebagai pangkal perasan bathin”.

Dalam buku “Ensiklopedi Tasawuf Imam Ghazali”, penjelasan mengenai hati(قلب ( menurut para ahli tasawuf dan lain-lain sebagai berikut :

 

 

      Sayyid Ali r.a

“Tidaklah hati itu disebut qalb ( yang suka berbolak-balik ), melainkan karena ia berbolak-balik  ( tidak dapat tenang )”

      Abu Bakar Jahdar Asy-Syibli r.a

              “Di dalam Ka’bah terdapat tanda sejarah Nabi Ibrahim a.s, dan di dalam hati terdapat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Ka’bah mempunyai beberapa fondasi dan hati juga mempunyai beberapa fondasi. Fondasi Ka’bah terdiri dari batu-batu besar, sedangkan fondasi hati terdiri dari tempat-tempat penyimpangan cahaya makrifat kepada Allah Swt.”

      Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Mustais An-Naisaburi r.a

              “Kecenderungan hati kepada selain Allah Swt. merupakan hukuman yang disegerakan oleh Allah Swt.bagi seorang hamba di dunia.”

Sang Maestro dunia tasawuf, Imam al-Ghazali menerangkan definisi hati di dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulumuddin sebagai berikut:

–       اللَّحْمُ الصَّنُوْبَرِى الشَّكْلُ الْمَوْدُعُ فِي الْجَانِبِ الأيْسَرِ. وَ هُوَ لَحْمٌ مَخْصُوْصٌ وَفِي بَاطِنِهِ تَجْويْفٌ. وَفِي ذَالِكَ التَّجْوِيْفِ دَمٌ اَسْوَدُ[4]  

–       أنَّ الْقَلْبَ لَطِيْفَةٌ رَبَّانِيَّةٌ رُوْحَانِيَّةٌ لَهَا بِهَذَا الْقَلْبِ الْجِسْمَانِي تَعَلُّقٌ. وَ تِلْكَ اللَّطِيْفَةُ هِيَ حَقِيْقَةُ الأِنْسَانِ. وَ هُوَ الْمُدْرِكُ الْعَالِمُ الْعَارِفُ مِنَ الأِنْسَانِ, وَ هُوَ الْمُخَاطَبُ وَالْمُعَاقَبُ وَالْمُعَاتَبُ وَالْمَطَالِبِ.[5]

  1. 3.  Pengertian Nurani

Nurani, berasal dari bahasa arab نور , yang ditambah akhiran huruf nun dan ya’ nisbah (( نوراني. Nur dalam kamus bahasa arab, artinya “cahaya, terang”. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia, nurani artinya “terang bercahaya”.

 

Dalam Alquran, kata “nur” memiliki banyak pengertian, di antaranya:

  • Cahaya Allah Swt. , sebagaimana dalam surah At-Taubah : 37

يريدون أن يطفئوا نورالله بأفواههم و يأبي اللهُ إلاّ أن يتمّ نورَه و لو كره الكافرون        

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan mereka) dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya walaupun orang kafir tidak suka”

  • Al-Quran, seperti dalam firmanNya Surah Al-Araf: 157

فا الّذين  آمنوا به و عزّروه ونصروه  واتّبعوا النّورَ الّذي  أُنزل  معه  أُولئك  هم  المفلحون

“Mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung”

  • Rasulullah Saw. seperti dalam firmanNya Surah Al-Maidah: 15

قد جاء كم مّن الله  نور  وكتاب مبين

“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya (Nabi Muhammad Saw.) dari Allah, dan kitab (Al-Quran) yang menerangkan”.

  • Petunjuk, seperti dalam firmanNya Surah Az-Zumar: 22

أفمن  شَرَح  اللهُ  صدرَه  للإسلام فهو على  نور من  ربه

“ Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membantu hatinya)?”.

 

 

  • Ilmu pengetahuan, seperti dalam surah Ibrahim: 1

آلر. كتاب  أَنزَلناه  إليك  لِتُخْرِجَ  النّاسَ  من  الظُّلمات  إلى  النّور  بإذن  ربّهم  إلى  صراطِ  العزيز  الحميد

“ Alif, lâm râ. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.

Dari beberapa pengertian nur atau nurani di atas, maka kami simpulkan bahwa pengertian nurani adalah cahaya dari Allah yang dinisbahkan kepada sinarnya.

Dan pengertian dari suara hati nurani adalah kekuatan dalam bentuk bisikan yang datang dari dalam diri manusia yang hatinya sudah mendapat sinar dari Allah, sehingga ia dapat membedakan mana yang baik untuk dilakukan, dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan. Dia memerintah untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dan melarang hal yang sebaliknya. Ketika kewajiban dilaksanakan, tanggung jawab diselesaikan dan segala perintahnya dituruti, respon hati nurani akan lapang, trenang, dan puas. Namun sebaliknya, apabila kewajiban dikebelakangkan, dia akan merasa sedih dan takut serta menjadi beban pikiran.

Suara hati nurani ( intuisi atau insting bathin ) merupakan anugerah fitrah dari Allah. Berbeda dengan akal. Akal merupakan hasil perolehan ( iktisabiy )[6] , maksudnya, potensi akal kita semua sama, tergantung pemeliharaan dan pemupukannya. Sedangkan hati nurani itu murni adanya.

Hati nurani yang memerintahkan agar menetapi kewajiban, bukan karena balasan dan siksaan, kecuali ganjaran terhadap dirinya dengan merasa gembira dan siksaan dirinya karena merasa tercela dan menyesal. Sebagian ada yang mengatakan “Di dalam bathin manusia itu ada dua suara, suara was-was ( temptation ) dan hati nurani. Masing-masing dari dua suara itu adalah kecenderungan yang tertekan, karena pada manusia itu ada keinginan baik, ada keinginan buruk. Apabila keinginan buruk itu ditekan, terdengar suara suara was-was dan bujukan yang mengajak ke arah keburukan, dan bila keinginan baik ditekan terdengar hati nurani menderita karena keburukan dan memanggil berbuat baik, maka was-was itu adalah suara keburukan yang menguasai kebaikan, dan hati nurani itu adalah suara kebaikan yang menguasai keburukan.[7]

B. Sumber Suara Hati Nurani

Suara hati nurani itu bersumber dari Sang Pencipta, yaitu Allah Swt. , sebagaimana dalam surah Ali Imran ayat 60 :

الحقُّ  من  ربّك  فلا  تكنْ  مّن  الممترين

Mengutip dari kata-kata mutiara Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengenai sumber suara hati nurani yang berbunyi

إنّما  اَوْرَدَ  عليك  الواردُ  لتكون  به  عليه  وارِدًا

(Sesungguhnya Allah mendatangkan cahaya ilahi {warid} itu kepadamu agar kamu dengan warid itu menjadi orang yang menghadap dan masuk ke hadiratNya).[8]

Suara hati nurani adalah fitrahnya manusia yang datang dari Allah. Suara hati nurani seorang insan akan selalu baik ketika nur Allah sudah meresap dan menetap di hatinya. Menurut Al-Arif billah Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani, pengarang kitab Iqazhu al- Himam fi Syarhi al-Hikam, bahwa cahaya Allah yang diletakkan di hati hambaNya ( nūr warid ) melalui tiga fase :

  • Nūr Islam, cahayanya seperti bintang, lemah. Cahaya ini merubah keadaan hamba dari gelapnya kekufuran dan kedurhakaan kepada cahaya keislaman, tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Disebut juga dengan nūr syari’at.
  • Nūr Iman, cahayanya menyinari hati manusia agar ikhlas beramal dan mengabdi kepadaNya. Disebut juga dengan nūr thariqat.
  • Nūr Ihsan, yaitu cahaya yang menyingkap gelapnya terhijab dari Allah, sehingga orang yang berada pada maqam ini sudah tidak ada lagi penghalang antara hamba dan Allah.

 

  1. C.  Ciri-Ciri Suara Hati Nurani

Adapun mengenai ciri-ciri suara hati nurani itu adalah :

  • Merupakan anugerah dari Allah yang fitrah dalam diri setiap manusia.
  • Berupa ilham dari Allah
  • Cenderung memberikan respon positif dalam hal kebaikan dan respon negative untuk keburukan.

 

D. Perbedaan Suara Hati Nurani

Kita mengerti bahwa hati nurani itu berbeda-beda. Perbedaannya agak besar diantara bangsa-bangsa yang telah maju sekalipun. Bangsa-bangsa itu di dalam melakukan kebaikan dan keburukan, dan diikutinya perbedaan mereka dalam hati nurani masing-masing.

Hati nurani berbeda karena masanya. Bila kita bandingkan hati nurani suatu bangsa pada saat ini, dengan hati nurani pada dua tiga abad yang telah lalu, kita dapatkan perbedaan besar. Pada abad-abad yang lalu, perbudakan itu adalah hal yang biasa dan perempuan siperlakukan secara kasar, sedang dahulu suara hati tidak memungkirinya sedang bangsa sekarang mencerca perbuatan itu dan mencela melakukannya.

Manusia berbeda hati nuraninya karena perbedaan waktunya. Terkadang ia menyaksikan sesuatu yang baik dalam suatu waktu sehingga bila meningkat pikirannya ia melihat buruk, dan begitu sebaliknya.[9]

  1. E.  Tingkatan Suara Hati Nurani

Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin, bahwa hati nurani ( suara hati ) mempunyai tiga tingkatan, yaitu :

  • Perasaan melakukan kewajiban karena takut kepada manusia
  • Perasaan mengharuskan mengikutinya apa yang harus diperintahkan,
  • Tidak sampai kepada tingkatan ini kecuali orang-orang besar dan para pemimpin ulung. Yaitu rasa seharusnya mengikuti apa yang dipandang benar oleh dirrinya, berbeda dengan pendapat orang atau mencocokinya, menyalahi undang-undang yang terkenal di kalangan manusia atau mencocokinya.[10]

                                                                       

  1. F.      Hubungan Kebebasan, Tanggung Jawab dan Hati Nurani dengan Akhlak

Suatu perbuatan, baru dapat dikategorikan sebagai perbuatan akhlaki atau perbuatan yang dapat dinilai berakhlak, apabila perbuatan tersebut dilakukan atas dasar kemauan sendiri, bukan paksaan, dan bukan pula dibuat-buat dan dilakukan dengan tulus ikhlas. Untuk mewujudkan perbuatan akhlak yang ciri-cirinya demikian, baru bisa terjadi apabila orang yang melakukannya memilki kebebasan atau kehendak yang timbul dari dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, perbuatan yang berakhlak itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja secara bebas. Disinilah letak hubungan antara kebebasan dan akhlak.

Selanjutnya, akhlak juga harus dilakukan atas dasar kemauan sendiri dan bukan paksaan. Perbuatan yang seperti inilah yang dapat dimintakan pertanggungjawabannya dari orang yang melakukannya. Disinilah letak hubungan antara tanggung jawab dan akhlak.

Akhlak juga harus muncul dari keikhlasan hati yang melakukannya, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada hati sanubari, maka hubungan akhlak dengan kata hati menjadi demikian penting.

Dengan demikian, maslah kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani adalah merupakan faktor dominan yang menentukan suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai perbuatan akhlaki. Disinilah letak hubungan fungsional antara kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani dengan akhlak. Karenanya dalam membahas akhlak seseorang tidak dapat meninggalkan pembahasan mengenai kebebasan, tanggung jawab, dan hati nurani.[11]

  1. G.   Fungsi Suara Hati Nurani

Adapun fungsi kekuatan hati nurani, dapat disebutkan bahwa :

  • Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, akan memberi petunjuk dan menakuti dari kemaksiatan.
  • Apabila kekuatan mengiringi suatu perbuatan, akan mendorongnya untuk menyempurnakan perbuatan yang baik dan menahan dari perbuatan yang buruk.
  • Apabila kekuatan menyusul setelah perbuatan, akan merasa gembira dan senang apabila melakukan perbuatan yang di taati, namun akan merasa sakit dan pedih waktu melanggar prbuatan tercela.[12]

Suara hati juga berfungsi sebagai pembeda antara yang baik dan yang buruk sesuai dengan faham yang dianut, namun tanpa melihat akibat selanjutnya.[13]

Kembali mengambil kalimat dari Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengenai fungsi suara hati nurani.

اَوْرَدَ  عليك  الواردُ  ليَتَسَلَّمكَ  من يد الأغيار  و يُهَرِّرُكَ  من وَرَقِ  الأثار

( Allah mendatangkan warid kepadamu agar kamu selamat dari cengkraman duniawi dari nafsu syahwat, serta agar kamu bebas dari belenggu sifat-sifat untuk menuju ke alam penglihatanmu kepada Nya )

 

  1. H.  Pemeliharaan Hati

Suara hati yang benar-benar dari Allah dan mendorong kepada kebaikan tentu memerlukan pemeliharaan, didikan, dan perawatan yang efisien agar tetap pada kodratnya, yaitu mendorong kepada kebaikan. Berkaitan dengan ini, hati lah yang berperan penting sebagai objek pemeliharaan, karena disanalah cahaya Allah bertempat sehingga seorang hamba menjadi dekat dengan Allah, dan suara hatinya itu benar-benar ilham dari Allah, tanpa terkontaminasi oleh bisikan syaithan.

 

تنوّعْتَ  أجْناسُ الأعمال  لِتَنوُّعِ  وارداتِ  الأحوال

“jenis amal beragam karena kondisi spiritual yang Dia berikan juga beragam”

Kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa apa yang terungkap dalam kata, sikap, dan perbuatan kita adalah cerminan dari keadaan hati kita. Ini berkaitan dengan asupan ruhani yang kita terima. Asupan itu berkaitan dengan keluasan dan kesempitan hati kita dalam membangun kedekatan dengan-Nya. Ada saat kita tiba-tiba menjadi sangat bijak dan ramah, ada saat kita bersikap sangat dingin, dan tak sedikit saat kita juga meledak-ledak. Untuk semua kondisi ini, bersikaplah tulus agar kita bisa melewatinya dengan mulus. Bersikaplah wajar agar kita tidak tercemar. [14]

Urgensi dari pemeliharaan hati ini sangat perlu diperhatikan. Apalagi jika kita mengingat sabda Rasulullah yang berbunyi

إنّ في جسد ابن آدم مضغةً, إذا صلُحت, صلُح الجسدُ كله, اَلاَ و هي القلب

“Sesungguhnya, dalam tubuh anak adam terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, ia adalah hati”.

Sangat jelas hadits diatas menyatakan bahwa hati lah pangkal dari seorang manusia. Pusat dari segala perbuatannya selama hidupnya tergantung dari hatinya. Jika hatinya baik, maka hidupnya pun akan baik, dan begitulah sebaliknya.

Di dalam Al-Quran, tepatnya pada surah Ar-Ra’ad: 28, dijelaskan mengenai tips untuk mengontrol hati kita, ayat tersebut berbunyi

الّذين ءامنوا و  تَطْمَئِنُّ  قلوبُهم  بذكراللهۗ  ألا  بِذكر  الله  تطمئنّ  القلوب

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram.”

Jadi, dzikrullah merupakan salah satu cara yang ampuh untuk memelihara hati, atau bahkan untuk menghilangkan segala macam kotoran hati. Dan cara ini sudah dijamin mujarabnya, karena Allah lah yang memberikan resepnya.

PENUTUP

Kesimpulan

             Suara hati nurani adalah kekuatan dalam bentuk bisikan yang datang dari dalam diri manusia yang hatinya sudah mendapat sinar dari Allah, sehingga ia dapat membedakan mana yang baik untuk dilakukan, dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan. Dia memerintah untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dan melarang hal yang sebaliknya. Ketika kewajiban dilaksanakan, tanggung jawab diselesaikan dan segala perintahnya dituruti, respon hati nurani akan lapang, tenang, dan puas. Namun sebaliknya, apabila kewajiban dikebelakangkan, dia akan merasa sedih dan takut serta menjadi beban pikiran.

 

             Ciri-ciri suara hati nurani adalah :

  • Merupakan anugerah dari Allah yang fitrah dalam diri setiap manusia.
  • Berupa ilham dari Allah
  • Cenderung memberikan respon positif dalam hal kebaikan dan respon negative untuk keburukan.

 

 

             Suara hati nurani murni bersumber dari Allah Swt.

             Inti dari permasalahan “suara hati nurani” ini letaknya pada hati. Jadi, hati lah yang berperan penting dan harus diperhatikan agar menghasilkan suara, atau cahaya nurani yang bagus, yang bisa memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada kita.

             Hati nurani itu bersifat dari Allah.

             Hidup itu harus benar, dan jika ingin benar, kita harus bersama Allah.

             Konsekuensi kerjaan diri kita itu kembalikan kepada diri kita sendiri.

 

 

 

 

î

Daftar pustaka

Ghazali, Imam. 1957. Ihyā ‘Ulūmuddin. (Surabaya: Maktabah Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Nabhan wa aulāduhu)

Ĝurĝânî, (al) Ali. 1985. Kitâb Al-Ta’rîfât.  (Bâyrūt, Lubnân: Maktabah Lubnân)

Mujib, Abdul. M. Ismail, Ahmad. Syafi’ah. September 2009. Ensiklopedi Tasawuf IMAM GHAZALI Mudah Memahami dan Menjalankan Kehidupan. (Jakarta Selatan: PT. Mizan Republika)

Mustofa, A.  Mei 2010.  Akhlak Tasawuf. (Bandung: CV. Pustaka Setia)

Mz, Labib. Tth. Hakekat Ma’rifat ( matnu al Hikam syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari ). (Surabaya: Penerbit Bintang Usaha Jaya)

Nata, Abdullah. Tth. Akhlak Tasawuf. (Jakarta: Rajawali Press)

Santoso. Ananda, AK Hanif, A. R. tth. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. (Surabaya: Alumni)

Sibawaih, Imam. 2011. Al-Hikam Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah. (Bandung: Gita Print).

Yunus, Mahmud. 1989. Kamus Arab-Indonesia. (Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah).

 

 

 

 

 

 


[1]A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia: Bandung, h.117-118

[2]Ali Al Ĝurĝânî, Kitâb Al-Ta’rîfât, (Bâyrūt, Lubnân: Maktabah Lubnân, 1985 M), h. 140

[3]Aditya Lukman, Kamus Bahasa Indonesia, tth.

[4]Imâm Al-Ghazali, Iĥyā ‘Ulūmuddin, (Surabaya: Maktabah Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Nabhan wa aulāduhu), h. 35

[5]Ibid

[6]Abuddin Nata, Akhlak Tashawuf, (Jakarta: Rajawali Press, tth), h.112-113

[7]A. Mustofa, op. cit, h. 118-119

[8]Labib. Mz, Hakekat Ma’rifat (matnul hikam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari), (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, tth), h.214

[9]Ibid, h.119-120

[10]Ibid, h. 121

[11]Abuddin Nata, op. cit., h.136

[12]A. Mustofa, op. cit., h.118

[13]Abuddin Nata, op. cit, h. 111

[14]Imam Sibawaih El-Hasany, Al-Hikam Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah, cet.IV (Bandung: Gita Print, 2011), h. 24-25

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: